Fatwa MUI tentang Forex, Halal atau Haram?

Fatwa MUI tentang Forex, Halal atau Haram? – Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat para pelaku bisnis trading Forex berada di dalam kegamangan. Forex sendiri memiliki kegiatan dalam jual/ beli mata uang, dan menurut MUI merupakan hal yang tidak semua transaksinya dapat dibenarkan dalam kaidah muamalah Islam. Terdapat 2 fatwa yang dikeluarkan MUI terkait bisnis trading Forex.

2 Fatwa MUI tentang Bisnis Forex

Pada tahun 2002 menjadi awal mula MUI mengeluarkan fatwa mengenai Forex, dengan Nomor: 28/DSN-MUI/III/2002 yang berisikan tentang Jual Beli Mata Uang atau yang dikenal dengan istilah Al-Sharf. Sebagaimana pengertian Al-Sharf secara harfiah, dalam jual beli Islam terdapat aturan mengenai penambahan, penukaran, atau penghindaran. Sebab, tidak semua proses transaksi Forex sesuai dengan ajaran Islam.

Selanjutnya, pada tahun 2015 kembali dikeluarkan fatwa tentang Forex yang tercatat di dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 96/DSN-MUI/IV/2015. Hal ini mengatur tentang Transaksi Lindung Nilai Syariah (Al-Thawwuth Al-Islami/ Islamic Hedging) atas Nilai Tukar. Fatwa kedua ini jarang dibahas, tapi justru dapat memberikan pemahaman lebih terkati Forex yang halal sesuai ajaran Islam.

Transaksi Jual Beli Mata Uang Forex berdasarkan Fatwa MUI

Setiap transaksi jual beli di dalam Islam memang memiliki aturannya tersendiri, agar tidak merugikan salah satu pihak, dan memperkaya pihak lainnya secara berlebihan. Forex sendiri memiliki 4 jenis transaksi yang berkaitan dengan valuta asing, mulai dari spot, forward, swap, dan option. Bagian mana yang ternyata tidak memiliki kesesuaian dalam hukum jual beli Islam, hingga fatwa MUI tentang Forex pun dikeluarkan tahun 2002?

Transaksi Spot pada Forex

Pertama, jenis transaksi valuta asing spot yang merupakan penukaran uang dengan waktu penyelesaian di hari yang sama atau saat itu juga (over the counter), dan paling lama jika terdapat kendala akan membutuhkan waktu 2 hari. Aturan transaksi spot pada Forex ini ternyata tidak melanggar Al-Sharf dalam hukum Islam. MUI pun memberikan ketetapan bahwa spot boleh untuk diterapkan dalam jual beli Forex.

Transaksi Forward pada Forex

Kedua, jenis transaksi forward pada Forex ternyata dianggap haram oleh MUI, dengan pengecualian apabila terdapat suatu hal yang tidak dapat dihindari. Sebab, metode atau aturan yang diterapkan  untuk jenis transaksi ini adalah melakukan perjanjian harga yang dilakukan saat ini dengan penyesaiannya pada 2 hari atau 1 tahun lagi. Inilah yang tidak diperbolehkan, karena valuta mata uang akan memiliki perubahan di kemudian hari.

Transaksi Swap pada Forex

Forex dianggap memiliki transaksi yang haram oleh MUI apabila menerapakn jenis transaksi Swap. Pada jenis transaksi yang ketiga ini, terdapat kontran penjualan atau pembelian mata uang asing (valuta asing/ valas) dengan harga spot, kemudian diikuti dengan transaksi jual atau beli valas yang memiliki harga forward sama. Sehingga, transaksi swap tidak sesuai dengan fatwa MUI tentang Forex.

Transaksi Option pada Forex

Ternyata jenis kelima dari transaksi Forex ini juga mendapatkan ganjaran yang sama yaitu haram menurut MUI. Dijelaskan bahwa pada jenis transaksi ini seseorang dapat menjual atau membeli valas di waktu yang diinginkan, sesuai dengan harga di masa mendatang. Seperti yang diketahui, bahwa menimbun dan melakukan penjualan ketika harga suatu barang naik, maka sudah jelas dilarang dan diharamkan hukumnya dalam jual beli Islam.

Sudut Pandang MUI dan Forex yang Bertentangan

Jika melihat deri fatwa MUI tentang Forex terdapat pertentangan sudut pandang di keduanya. MUI melakukan larangan, karena mata uang bukanlah barang yang dapat diperjual belikan. Sehingga sistem yang diperbolehkan hanya transaksi spot dan forward dengan pengecualian. Sementara, Forex menganggap bahwa mata uang adalah barang yang dapat diperjual belikan. Di sinilah sudut pandang keduanya berbeda, dan tidak memiliki titik temu.

Selanjutnya, pada motif melakukan transaksi hingga MUI mengeluarkan fatwanya di tahun 2002 terhadap Forex. Bisnis trading Forex ini sebenarnya tidak sesuai dengan syariat Islam apabila memiliki tujuan untuk spekulasi. Seperti yang diketahui bawa cara melakukan trading dalam Forex adalah melihat kondisi pasar dan melakukan prediksi terhadap nilai mata uang (mengalami kenaikan atau penurunan).

Jika melakukan trading Forex untuk berjaga-jaga (tabungan masa depan), dilakukan dengan spot tau forward dengan pengecualian, maka tetap diperbolehkan. Sehingga, fatwa MUI tentang Forex masih memiliki hukum halal apabila tujuan dan transaksinya masih sesuai dengan ajaran Islam. Lantas, bisakah dipastikan bahwa tujuan trading Forex tidak memiliki spekulasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *